Rabu, 21 Desember 2011

PINANGAN BERDARAH


     Lereng bukit terjal,  dimana terdapat sebuah bangunan yang keseluruhannya terbuat dari batu granit itu tampak sunyi tersaput halimun tipis dipagi hari, tapi bilamana angin berhembus dari puncak bukit lapat-lapat terdengar sura berdesing bersiur berkepanjangan, itu mungkin suara angin yang terpesat masuk kecelah kecil dipunggung bukit yang tidak bisa kembali keatas.
Mentari perlahan menyemburatkan sinarnya yang hangat menyapa mayapada membuyarkan tetesan-tetesan embun yang bergayut ditengah daun keladi hutan, namun suasana pagi haripun tetap tak ada perubahan tempat itu tetap sunyi senyap bahkan suara burung dan serangga yang lajim mendendangkan suara alampun seakan sirap, yang terdengar hanya suara hembusan angin yang semakin kencang dan suara desingan dipunggung bukitpun semakin keras terdengar memecah kesunyian.
Dari kaki bukit terjal satu bayangan tampak dengan ringan berlompatan diantara bebatuan yang berlumut,  siapapun sosok bayangan itu dipastikan memiliki kapasitas ringan badan yang sempurna, karena jika salah perhitungan menjejak bebatuan runcing berlumut dan sampai terpeleset,  dibawah sana jurang lebar menganga dengan bebatuan runcing bak tombak siap melumatkan tubuhnya.
Hanya butuh beberapa lompayan saja, akhirnya sosok bayangan ini dengan ringan jejakan kakinya dipuncak bukit dimana sepuluh tombak didepan berdiri dengan angker sebuah bangunan yang keseluruhan dinding dan atapnya terbuat dari batu granit yang keras.
Bangunan ini sungguh aneh, hampir keseluruhannya dari batu granit dan yang lebih aneh lagi bangunan ini tak memiliki pintu masuk ataupun jendela buat sirkulasi udara, sosok tubuh tegap ini sesaat usap wajahnya yang berpeluh, satu goresan panjang melintang terlihat dipipi sebelah kirinya, sosok yang tak lain dari sanjaya calon penguasa dunia prsilatan dengan menghalalkan segala cara ini raba didnding batu granit dengan telapak tangan kanannya dan begitu tusukan kelima jarinya diantara celah kecil perlahan sebuah dinding batu bergeser kebawah amblas kedalam tanah dengan cepat sanjaya lesatkan badannya kedalam bangunan tersebut bersamaan dengan menutupnya kembali pintu batu disusul gemuruh samar dan tak lama berselang keseluruhan bangunan yang terbuat dari batu granit itu amblas kedalam tanah, suasana kembali hening dan sunyi seakan tak terjadi apapun sebelumnya ditempat itu.
Didalam bangunan batu granit yang ternyata berpungsi seperti lif dizaman modern itu sanjaya tampak berdiri dengan sebelah tangan kanannya mengapit sebilah pedang yang tak lain dari pedang sangga buana hasil rampasan dari seorang mpu dengan cara menyamar sebagai murid dari sang mpu dan akhirnya dibunuhnya juga mpu tsb  dengan pedang ciptaannya sendiri oleh sanjaya ( baca eps. Balada cinta dyah citraresmi pitaloka, pen) .
Sanjaya merasakan bangunan dari batu granit yang membawanya meluncur kebawah berhenti, kembali pemuda gagah ini tempelkan telapak tangan kanannya dan begitu kepalkan jari-jarinya secara otomatis lempengan batu granit itu terbuka keatas dan sanjaya dengan cepat lesatkan badannya keluar dari bangunan batu granit  dan didepan sana seorang lelaki berjubah dengan bulatan-bulatan hitam berjumlah enam buah tampak tersenyum simpul kearahnya.
“luar biasa, kau berhasil sanjaya..”
“romo guru, tak susah bagi diriku untuk mendapatkan pedang mustika ini..”
Gumam sanjaya sambil menyerahkan bilah pedang mustika sangga buana pada orang tua dihadapannya yang tak lain dari wiku dharma persada, pemimpin partai lintas aliran halilintar sewu
“aku percaya sanjaya, dan kau lihat seluruh senjata mustika yang berada dikuburan mustika ini, kelak akan aku wariskan kepadamu..”
“dan bila waktu itu tiba aku telah menjadi penguasa rimba persilatan tanah jawa ini..”
Sentak sanjaya, hingga gema suaranya menggetarkan dinding-dinding gua kuburan mustika
“hahaha..tepat sanjaya tepat..tapi  ada sesuatu yang mengganjal dibenakku..”
“apa itu romo guru..”
“kau masih ingat dengan ceritaku tentang  manggala..”
“orang yang akan membunuhku ketika orok, dan  karena dia juga wajahku menjadi cacat”
Sentak sanjaya sambil kepalkan kedua tangannya
“benar sanjaya..”
“aku akan memburunya, walau dia bersembunyi dilubang semut pun..”
“kau tak perlu melakukannya, karena aku yakin dia akan datang lagi kemari menuntut balas”
“kebetulan..jadi aku tidak susah-susah memburunya..”
“namuh ada hal yang musti kau ketahui, manggala telah membawa lari kitab mustika andalan halilintar sewu, dan aku yakin seluruh kitab itu telah dia kuasai..”
“aku tidak gentar romo guru..”
“asal kau tahu sanjaya, semua jurus dan olah kanuragan yang aku turunkan padamu, baru tingkat pertama dan bila manggala telah berhasil menyempurnakan isi kitab sampai tingkat tiga kau akan dilibasnya dengan mudah..”
“lalu apa rencana romo guru selanjutnya..”
“pergilah ke jurang tanpa dasar semenanjung himalaya, bergurulah pada pertapa sapta raga, dengan ajian yang dimilikinya dirimu akan mampu menandingi jurus kuntum kilat melecut raga tingkat tiga yang dikuasai manggala si arit iblis..”
“maap, romo guru..apa pertapa itu bersedia mengangkatk ku sebagai murid..”
“serahkan pedang mustika sangga buana pada pertapa sapta raga, niscaya dirimu akan diangkatnya menjadi muridnya..”
“jadi ini tujuan guru mengutus ku, merampas pedang sangga buana..”
“tepat sanjaya..nah sekarang pergilah..ke jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya di negri Hindustan..”
(catatan: bagi pembaca yang penasaran dengan tempat bernama jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya, di hindustan, kini india. harap baca karya KYT sebelumnya di blog Bhumi deres mili Eps: Mustika Lembah Cimanuk, pen)
“baik romo guru, hari ini juga aku akan berangkat ke nagri Hindustan..”
Ucap sanjaya, lalu rangkapkan kedua tanganya didada, setelah itu kembali masuk kedalam bangunan batu granit yang akan membawanya kembali keatas permukaan tanah.
Setelah kepergian sanjaya wiku dharma persada tampak sandarkan dirinya didinding gua  matanya tampak kosong menerawang langit-langit gua kuburan mustika yang tampak memancarkan warna lembayung dari bongkahan stalagtit diatas gua.
“kalau saja sanjaya tahu, aku pun dulu menginginkan nyawanya..mungkin ceritanya akan lain..”
Membatin wiku dharma persada dalam hati, kemudian lelaki tua plontos dengan bulatan hitam berjumlah enam dikepalanya ini pejamkan kedua matanya, tak lama pemimpin partai halilintar sewu ini larut dalam semadinya.


ooooOoooo

     Semenjak melihat paras putri raja padjajaran dyah pitaloka, bhatin sungging prabangkara senantiasa diliputi oleh perasaan yang baru kali ini membuatnya gelisah tak menentu dan sebagai pelampiasanya dari hasrat yang terpendam dalam sanubarinya, pemuda yang baru beberapa bulan turun gunung ini menuangkan segenap rasa pada sebuah goresan-goresan kuas diatas hamparan kain putih, yah..sungging prabangkara melukis putri dyah pitaloka yang kemarin dilihatnya dipasar haur koneng, mungkin karena lelah pemuda berbaju hitam ini tertidur dengan pulasnya, didalam mimpinya putri  padjajaran ini menemuinya.
“berangkatlah ke majapahit, selamatkan diriku..”
Teriak dyah pitaloka dalam mimpinya, putri  kerajaan padjajaran ini tengah memegang sebilah patrem atau keris kecil yang lazim dimiliki oleh seorang putri raja dan tak lama segumpal kabut menyergap tubuh dyah pitaloka, dan yang tersisa hanya teriakan dari sang putri menggema bak berasal dari dasar jurang yang dalam.
Sungging prabangkara tersentak bangun dari tidurnya, pemuda ini lantas membasuh mukanya dipancuran yang terdapat dipinggir sungai dimana dia mendirikan gubuk sebagai tempat tinggalnya selama ini.
“mimpi yang aneh..”
Gumam pemuda berikat kepala hitam ini sambil duduk dipinggir sungai berbatu dengan gemericik airnya yang senantiasa mengalir dengan beningnya.
“tidak ada salahnya aku ke majapahit, sekalian menyambangi biungku diperdikan welangun, tapi mengapa putri padjajaran itu meminta aku menyelamatkannya, menyelamatkan dari apa..ah..sudahlah, mumpung belum pagi aku berangkat sekarang juga ke majapahit..”
Setelah merapihkan peralatan melukisnya sungging prabangkara segera melangkahkan kakinya meninggalkan kota raja padjajaran.
Mentari beranjak naik ketika sungging prabangkara menginjakan kaki disebuah pecantilan yang sepertinya tengah terjadi kebakaran hebat, tubuh pemuda ini lantas berlari kearah orang-orang yang tengah berkerumun berusaha menyelamatkan harta bendanya dari kobaran api, namun disaat bersamaan puluhan orang-orang berkuda datang dan langsung mengayun-ayunkan senjatanya kearah penduduk pecantilan, sebagian lagi tampak merampas ternak penduduk, rupanya orang-orag berkuda ini tengah merampok pecantilan tersebut.
“kuras semua harta benda, jangan disisakan sedikitpun..”
Sentak seorang tingi besar dengan tombak berkilat ditangannya, rupanya dia adalah pemimpin begal atau perampok ini, tapi mendadak sebuah bayangan dengan cepat melintas diatas pemimpin rampok ini hingga terjengkang dari kudanya, dengan sebat pemimpin rampok bernama tunggara ini lentingkan badannya keudara, ketika jejekan kakinya kembali ketanah seorang pemuda dengan rambut digelung keatas tampak berdiri dihadapan kepala begal ini.
“bocah bau kencur, kau sudah bosan hidup rupanya, berani ikut campur urusan ku..”
“rampok macam kalian sudah sepantasnya dibasmi..”
“jumawa ucapanmu, siapa kau bocah..”
“aku mangkurat, kau tau apa yang aku pegang ini..”
Pemuda yang ternyata mangkurat utusan dari kiageng wanabaya untuk mengambil pedang sangga buana yang kini berada ditangan sanjaya itu, lemparkan sebuah lempengan batu bergambar matahari kehadapan tunggara, pemimpin rampok partai bajing airing.
“kau telik sandi dari majapahit rupanya…”
“kalau sudah tahu mengapa tidak kau suruh anak buahmu menyerahkan diri..”
“hahaha..telik sandi, kau terlalu jauh dari rumah mu..ini daerah kekuasaan partai begal bajing akiring, tak ada yang bisa menghentikan kami..maut taruhannya..”
Belum selesai gema suara dari tunggara, lelaki tinggi besar ini sabetkan tumbak yang digenggamnya kearah mangkurat.
Sementara itu anak buah tunggara yang tengah menjarah harta dan ternak penduduk tampak terpelanting tanpa sebab, puluhan orang yang rata-rata bertampang sangar ini berkaparan ditanah sedang ditengah kalangan pertempuran berdiri satu sosok pemuda berbaju hitam dengan memegang sebuah kuas ditangan kanannya, rupanya dengan kuas ini puluhan anak buah begal tunggara dibuat kacau balau, melihat sepuluh temannya berkaparan sepuluh orang yang lain dengan golok ditangan masing-masing serang pemuda berbaju hitam ini secara serempak.
Dengan segera pemuda baju hitam yang tak lain dari sungging prabangara kibaskan tangan kanannya kearah orang-orang yang menyerangnya, puluhan bayangan kuas tampak melesat dari telapak tangan pemuda ini yang langsung membeset kearah anak buah tunggara, walau Cuma bayangan namun dapat menembus kulit yang mengakibatkan terkaparnya sisa anak buah tunggara bermandikan darah.
Sedang ditempat terpisah  tunggara dengan ganas terus menyerang mangkurat dengan tombak nya, namun olah kanuragan pemimpin begal partai bajing akiring  kalah jauh dari telik sandi majapahit ini, yang dalam satu kesempatan tendangan berantai yang dilancarkan mangkurat dengan telak menghujam dada tunggara disusul jatuhan tumit dikepala diakhiri tendangan melingkar yang memaksa pemimpin rampok partai bajing akiring ini ambruk ketanah, belum sempat mangkurat mendaratkan jurus totokan satu kelebatan bayangan telah membawa lari pemimpin begal ini kearah selatan.
“hem..dari caranya orang itu membawa lari tunggara, dipastikan dia memiliki cacat ditangan kananya..”
Gumam mangkurat yang langsung menghampiri pemuda berbaju hitam yang tampak memandang puluhan anak buah tunggara melarikan diri ketika pemimpinnya dibuat jatuh oleh mangkurat.
“aku mangkurat, telik sandi majapahit..siapakah andika ini..”
“aku sungging prabangkara, kebetulan melintas didaerah ini..”
“mau kemana tujuanmu sungging..”
“aku mau kekota raja majapahit…”
“sayang kita tidak setujuan, baiklah sungging perjalan ke majapahit masih jauh kearah timur..semoga saja kita kelak berjumpa kembali..”
“baik kisanak mangkurat..aku pamit..”
“silahkan  andika sungging…”
Kedua pemuda ini tampak bersalaman detik berikutnya keduanya sama-sama melesat kearah yang berlawanan, namun belum jauh mangkurat lesatkan badannya pemuda telik sandi majapahit utusan kiageng wanabaya ini hentikan larinya.
“walau sekilas aku dapat melihat sebuah rajah didada sungging prabangkara, rajah kala cakra..jangan-jangan sungging prabangkara itu yang telah membunuh resi palwa dan melarikan pedang sangga buana…”
Memikir sampai disitu, mangkurat lesatkan badannya kearah dimana sebelumnya sungging prabangkara berlalu yakni kota raja  majapahit.

ooooOoooo

     Tunggara merasakan tubuhnya dibawa terbang oleh sosok yang memanggulnya, pemimpin begal partai bajing akiring ini berusaha melihat wajah yang telah menyelamatkan dirinya dari totokan maut yang dilancarkan mangkurat, namun yang tampak hanya kilasan-kilasan bayangan yang sangat cepat membuat tunggara kembali pejamkan matanya.
Disatu hutan kecil sosok yang memanggul tunggara hentikan larinya, dan dengan seenaknya  lempar tubuh tunggara dari bahu kirinya.
“sampai kapan kau meringkuk seperti ulat begitu..”
Sentak satu sosok lelaki dengan satu tangan yang sepertinya disambung oleh sejenis logam berbentuk arit berwarna merah ditangan kanannya.
“manggala rupanya kau yang menyelamatkan ku..”
“sudahlah, tak perlu basa-basi..kini anak buahmu kocar-kacir meninggalkan dirimu, sekarang ikutlah dengan ku membentuk partai baru..”
“baiklah manggala, karena aku hutang nyawa padamu..aku ikut saja rencanamu..”
“bagus, sebelumnya kita tundukan partai-partai rampok dan begal, setelah itu partai halilintar sewu kita tundukan..”
“manggala, bukankah kau bekas anak buah partai halilintar sewu..”
“itu dulu, setelah wiku dharma persada membuat cacat lengan kananku..aku bersumpah kelak akan menghancurkan partai itu..”
“baiklah manggala, sekarang kemana tujuan kita..”
“alas roban..aku dengar ditengah hutan itu berdiri satu partai rampok yang ditakuti seantero tanah jawa bagian tengah..kita tundukan dan kuasai partai itu..”
Tunggara hanya anggukkan kepalanya, dilain kejap keduanya tampak melesat kearah tenggara bertepatan dengan rembang petang melingkupi wilayah hutan tersebut

ooooOoooo

     Alun-alun timur kotaraja majapahit masih ramai dipadati penduduk kota raja yang ingin menyaksikan sayambara melukis putri  buat dipersunting prabu hajam wuruk, namun sampai satu bulan sayambara berlangsung tak ada satupun dari seniman-seniman lukis ternama diantero majapahit yang mampu membuat terkesan pabu hajam wuruk, raja muda ini tampak terlihat gusar disinggasananya..
“paman mada, sampai sejauh ini tak ada seorang pelukispun yang mampu menggetarkan jiwa ku..datangkan pelukis lain dari luar majapahit..”
“hamba gusti prabu..”
Mahapatih gadjah mada lantas perintahkan beberapa telik sandinya untuk melacak dan sekaligus mendatangkan seniman lukiis dari luar majapahit.
Disaat bersmaan sungging prabangkara yang sudah sampai dikota raja majapahit dan tengah merampungkan lukisan dari putri padjajaran dyah pitaloka disebuah hutan kecil dekat alun-alun bubat dikejutkan dengan datangnya beberapa pengawal kerajaan yang mengurungnya dengan tombak diarahkan didadanya.
“siapa kau anak muda, berani berada ditempat ini tanpa izin..”
Ujar seorang prajurit sambil menodongkan tombak kearahnya, namun ketika mata prajurit ini membentur likisan yang dibuat sungging prabangkara degan cepat diperintahkan semua anak buahnya membawa sungging prabangkara kedalam kedaton majapahit, dimana prabu haqjam wuruk dan mahapatih gadjah mada tengah berbincang.
 “maap gusti prabu, telik sandi minta menghadap..”
“suruh masuk telik sandi itu..”
Ujar mahapatih gadjah mada sambil bangkit dari duduknya.
Tak menunggu lama seorang prajurit datang sambil membawa sungging prabangkara
“telik sandi, siapa pemuda ini..” ujar mahapatih gadjah mada
“maap, gusti patih..pemuda ini hamba temukan sedang melukis dialun-alun bubat..”
“jadi kau seorang pelukis..apa kau juga salah satu peserta sayambara..”
Kata prabu hajam wuruk sambil bangkit dari singgasananya
“maap kan hamba gusti prabu, hamba hanya sekedar numpang merampungkan lukisan hamba, dan hamba juga bukan peserta sayambara..” kata sungging prabangkara sambil susun kedua tangannya didepan dada.
“coba kau perlihatkan lukisanmu pada ku..”
“ba..baik gusti prabu..”
Perlahan sungging prabangkara angsurkan sebuah gulungan yang terbuat dari kain, dengan cepat raja muda ini menerima gulungan lukisan dari dyah pitaloka, dan begitu lukisan dibuka raut wajah prabu hajam wuruk langsung berbinar.
“kau yang melukisnya..”
“hamba gusti prabu..”
“siapa yang ada didalam lukisan ini dan putri  dari mana..”
“maap gusti, dia bernama dyah pitaloka, putri dari kerajaan padjajaran..”
“sungging, kau memenangkan sayambara ini..seribu kepeng emas berhak atas dirimu..”
“tapi..gusti..”
“sudahlah sungging..paman patih..siapkan pinangan buat putri dari padjajaran itu..”
Mahapatih gadjah mada anggukkan kepalanya dan beringsut meninggalkan prabu hajam wuruk yang tampak masih terpana memandangi lukisan dari dyah pitaloka.
Sedangkan sungging prabangkara mau tidak mau menerima sejumlah hadiah seribu kepeng emas dari raja muda yang tengah dimabuk kasmaran dengan lukisan putri padjajaran itu, dan hari itu juga dikirimnya dhuta untuk meminang dyah pitaloka, putri padjajaran.
Selesai

salam Bhumi Deres Mili
Segera menyusul: praja pati wilwatikta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar